Materi Tipe-Tipe Pemimpin

Materi Tipe-Tipe Pemimpin

Abbulosibatang; salah satu semboyang anak pramuka adalah "scout today leader tomorrow" artinya  hari ini adalah pramuka dan esok adalah pemimpin. hal ini mengiaskan bahwa anak pramuka akan terlatih untuk menjadi pemimpin masa depan sehingga mereka sejak dini ditempah menjadi pemimpin yang hebat. dalam memimpin, baik memimpin regu, sangga, ambalan hingga skala yang lebih besar, setiap pemimpin memiliki tipe masing-masing. berikut ini akan dijelaskan beberapa tipe memimpin antara lain:

1. Tipe Otokratik 
Tipe ini oleh para ilmuwan dikatakan bahwa berdasarkan tipe ini seorang pemimpin mempunyai serangkaian karakteristik yang dapat dipandang sebagai karakteristik yang negatif yang nampaknya secara rasional dapat dibenarkan. Dilihat dari segi persepsinya, seorang pemimpin yang otokratik adalah seorang yang sangat egois, egoisnya yang besar akan mendorongnya memutar balikkan kenyataan yang sebenarnya, sehingga sesuai dengan apa yang secara subjektif diinterpretasikannya sebagai kenyataan. Contoh dari tipe ini adalah dalam menginterpretasikan disiplin para bawahan dalam organisasi, seorang pemimpin akan menerjemahkan disiplin kerja yang tinggi yang ditunjukkan oleh para bawahan itu kepadanya, padahal sesungguhnya disiplin kerja itu didasarkan kepada ketakutan, bukan kesetiaan.

Mengenai asal kata otokratik ini berasal dari kata autos yang berarti sendiri, dan kratos yang berarti kekuasaan dan kekuatan. Jadi otokrat berarti penguasa absolut. Kepemimpinan otokratis itu mendasarkan diri pada kekuasaan dan paksaan yang selalu harus dipatuhi. Pemimpinnya selalu mau berperan sebagai pemain tunggal. Ia berambisi untuk  merajai situasi, setiap perintah dan kebijakan ditetapkan tanpa berkonsultasi dengan bawahannya dan tidak pernah diberikan informasi mendetail mengenai rencana dan tindakan yang harus dilakukan, ia selalu jauh dari para anggota kelompoknya, ia senantiasa ingin berkuasa mutlak dan tunggal serta selalu merajai keadaan.

Pendapat lain mengatakan bahwa tipe kepemimpinan yang otoriter atau otokratik sangat memaksakan, sangat mendesakkan kekuasaannya pada bawahan, mereka dikendalikan dan diperintah seperti tidak mempunyai martabat manusia. Mereka juga diperlakukan seolah-olah tidak boleh mempunyai pikiran dan kehendak sendiri, tipe ini menyebabkan seorang pemimpin mengatur semuanya dari atas, mendikte semuanya supaya dikerjakan sesuai kehendaknya, dan pada akhirnya ia akan menajdi pemimpin yang dikatator. 

Kepemimpinan dengan tipe ini berlangsung dalam bentuk  working on his group karena menempatkan dirinya di luar anggota kelompoknya, ia merasa dirinya mempunyai hak istimewa  dan harus diistimewakan oleh bawahannya. Para bawahan tidak boleh dan tidak diberi kesempatan berinisiatif, mengeluarkan pendapat dan menyampaikan kreatifitasnya. Inisiatif, pendapat dan kreatifitasnya dalam melaksanakan tugas dan perintah dipandang sebagai penyimpangan dan pembangkangan.

2. Tipe Demokratis 
Herbert G. Hieks dan Ray C. Gullets (1981) dengan kepemimpinan gaya demokratis keluaran mungkin tidak setinggi pada tipe otokratik atau otoriter, namun kualitas lebih baik dan masalah manusia sedikit, terjadi saling saran antara pemimpin dan bawahan, saling berpendapat, semua orang dianggap sama pentingnya dalam mengembangkan ide dan pembuatan keputusan. Sharma (1982) memberikan pandangan yang senada tentang gaya demokratis, yaitu pemimpin memperhatikan pandangan bawahan, memberikan bimbingan masalah-masalah yang timbul dan melibatkan perasaan sendiri dalam membantu bawahan mencapai tujuan organisasi sebaik tujuan individu.

Kepemimpinan demokratis memberikan bimbingan yang efesien kepada para pengikutnya, tercipta koordinasi dari semua bawahan, dengan penekanan rasa tanggung jawab internal (pada diri sendiri) dan ada kerja sama yang baik. Tipe ini membuktikan kekuatan yang terletak pada partisipasi secara aktif dari setiap warga kelompok, menghargai potensi setiap individu, mau mendengarkan nasehat bawahan dan mampu memanfaatkan  setiap angota seefektif mungkin pada saat tertentu. Tipe kepemimpinan ini biasanya berlangsung dengan mantap dengan adanya gejala bahwa organisasi dengan segenap bagian-bagiannya berjalan lancar sekalipun pemimpin tersebut tidak ada di kantor, otoritas sepenuhnya didelegasikan kebawah, dan masing-masing orang menyadari tugas serta kewajibannya, sehingga mereka merasa puas-senang, pasti dan aman menyandang setiap tugas dan kewajibannya.

Tipe kepemimpinan ini menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting dalam setiap kelompok atau organisasi. Tipe ini diwujudkan dengan dominasi perilaku sebagai pelindung atau penyelamat, perilaku memajukan dan perilaku mengembangkan organisasi. Dengan didominasi ketiga perilaku kepemimpinan tersebut, berarti tipe ini diwarnai dengan usaha mewujudkan dan mengembangkan hubungan manusiawi (hubungan relationship) yang efektif berdasarkan prinsip saling menghormati dan menghargai antara yang satu dengan yang lain. Pemimpin memandang orang-orang yang dipimpinnya sebagai subjek yang mempunyai kepribadian dengan berbagai aspeknya  seperti dirinya juga. Kemauan, kehendak, kemampuan, pendapat, kreativitas, inisiatif yang berda-beda antara satu dengan yang lain selalu dihargai dan disalurkan secara wajar.

Tipe ini memandang manusia pada dasarnya mempunyai martabat yang sama, karenanya sang pemimpin tetap berusaha menghormati dan mempertimbangkan pendapat serta saran orang lain, ia akan menghindari hal-hal yang dirasakan tidak sejalan dengan martabat manusiawi bawahannya, para pembantunya ia perlakukan sebagai rekan dalam melaksanakan tugas, bahkan bawahan yang paling rendah sekalipun ia hormati sebagai subjek yang mempunyai harga diri dan memiliki pendapat sendiri. 

Onong Uchjana Effendi, menyebutkan bahwa tipe kepemimpinan ini adalah didasarkan pada demokrasi, dalam arti kata bukan karena dipilihnya pemimpin tersebut secara demokratis, yang setiap anggota mempunyai hak untuk dipilih dan memilih, melainkan cara melaksanakan kepemimpinannya yang demokratis. Sehingga setiap keputusannya merupakan keputusan bersama, setiap anggota kelompok diberi kebebasan untuk menyampaikan pemikirannya, menyatakan pendapatnya, dan lain-lain. Tetapi mereka wajib tunduk kepada keputusan mayoritas anggota kelompok. Oleh karena itu, maka kepemimpinan demokratis dinamakan juga dengan kepemimpinan partisipatif, para anggota kelompok berpartisipasi dalam hal menentukan tujuan, cara mencapai tujuan sampai pada pelaksanaan tujuan. ini fungsi kepemimpinan adalah membantu dan mengkoordinasikan proses pelaksanaan musyawarah dan pengambilan keputusan, dalam hal ini tidak ada orang yang paling super dari pada orang lain, setiap suara dari anggota kelompok dianggap sama nilainya karena setiap individu dinilai memiliki hak, dalam tipe yang sama dalam bermusyawarah dan dalam menentukan keputusan  demi kepentingan bersama.

3. Tipe Kharismatik 
Karakteristik yang khas dari tipe ini adalah daya tariknya yang memang mengikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang jumlahnya kadang-kadang sangat besar. Tegasnya setiap pemimpin yang kharismatik adalah orang yang dikagumi oleh banyak pengikut. dan munculnya tipe kharismatik bukan karena penampilan fisik, usia, kaya atau miskin,  tetapi karena pada diri pemimpin tersebut memiliki kekuatan yang ajaib yang tidak mungkin dapat dijelaskan secara ilmiyah  yang memungkinkan orang tertentu dipandang sebagai pemimpin yang kharismatik.

Sedangkan ciri-ciri pemimpin yang kharismatik menurut Ngalim Purwanto adalah sebagai berikut :
  • Mempunyai daya tarik yang sangat besar.
  • Pengikut tidak mampu menjelaskan mangapa mereka tertarik mengikuti dan menaatinya  
  • Pemimpin seolah-olah mempunyai kekuatan gaib (super natural power) 
  • Kharisma yang dimiliki tidak tergantung pada umur, kekayaan, ketampanan sipemimpin.
4. Tipe Patternalistik 
Tipe ini memandang bahwa pemimpin paternalistik selalu beranggapan bahwa bawahan adalah orang yang belum dewasa. Jadi pemimpin selalu mempersiapkan segala sesuatunya untuk para bawahannya, tipe ini mempunyai ciri antara lain; bawahan dianggap belum dewasa, pemimpin melindungi setiap bawahan, jarang memberi kesempatan pada bawahan untuk mengambil keputusan, berinisiatif, mengembangkan daya kreasinya dan ciri yang terakhir adalah bersikap maha tahu.

Senada dengan hal ini, Mochtar Effendy berpendapat bahwa tipe ini juga disebut tipe kebapakan, yang dimaksud adalah pemimpin yang bersikap dan bertindak dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya sebagai seorang bapak terhadap anak-anaknya, karena ia mencintai orang-orangnya serta menghormatinya, sehingga ia sering menganggap dirinya selalu benar, sedangkan bawahannya selalu dianggap masih kurang dari dirinya, mereka  harus mengikuti perintahnya. Tipe kepemimpinan ini  cenderung untuk mengikuti kemauannya sendiri, tidak mau dibantah dan mudah tersinggung.

Sumber:
  • Sondang P. Siagian. (1991). Teori dan Praktek Kepemimpinan, Cet.II. Jakarta: Rineka Cipta
  • Kartini Kartono. (1990). Pemimpin dan Kepemimpinan, Cet. V. Jakarta: Rajawali 
  • J. Riberu. (1992). Dasar-dasar Kepemimpinan. Jakarta: CV. Pedoman Ilmu Jaya
  • Panji Anoraga dan Sri Suyuti. (1995). Perilaku Keorganisasian, Cet. I. Jakarta: PT. Dunia Pustaka Jaya
  • Hadari Nawawi dan Martini Hadari. (1995). Kepemimpinan Yang Efektif, Cet. II. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press 
  • Onong Uchjana Effendy. (1992). Kepemimpinan dan Motivasi, Cet. VI. Bandung: Mandar Maju
  • Heidjrahman R.(1990). Tanya-Jawab Manajemen, Yogyakarta: AMP YKPN.
  • Mochtar Effendy. (1986). Manajemen (Suatu Pendekatan Berdasarkan Ajaran Islam). Jakarta: Bhratara Karya Aksara

0 Response to "Materi Tipe-Tipe Pemimpin"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel